Menjelajahi suatu kota yang asing adalah hal lumrah bagi siswa-siswi Sekolah Alam SAKA. Namun kali ini, mereka tidak berkeliling seperti biasa. Alih-alih mengunjungi tempat wisata untuk sekadar bersenang-senang, mereka justru melangkah untuk mencari arah masa depan dengan mengunjungi beberapa kampus di Kota Malang.
Berawal dari keinginan kuat menjelajahi kampus impian, setiap murid yang mengikuti kegiatan Backpacker Malang ini mempersiapkan proposal secara matang. Kata "Backpacker" hingga "Proposal" memang sudah menjadi teman akrab bagi mereka yang ada di SAKA Life School. Mereka memperhitungkan anggaran berdasarkan hasil riset mendalam, menentukan tujuan di setiap lokasi, hingga menyusunnya satu per satu menjadi rundown yang utuh.
Kebiasaan menyiapkan kegiatan secara mandiri membuat setiap anggota terbiasa berinisiatif. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, mereka sudah mencari tahu jadwal bus secara langsung. Opsi naik kereta api tidak memungkinkan karena keterbatasan jadwal pulang-pergi.
"Pergi atau pulangnya kita harus naik bus," ujar salah satu murid dalam ruang diskusi.
Berbekal riset yang konkret, mereka berangkat menuju Kota Malang dengan penuh semangat, meski sempat dihampiri sedikit kegugupan karena ada satu anggota yang hampir tertinggal. Beruntung, di detik-detik terakhir tepat sebelum bus melaju, ia berhasil menyusul. Rombongan Backpacker Malang High School pun berangkat dengan personil lengkap.
Selama perjalanan, semua anggota memang membawa gadget, tetapi bukan untuk membuka Google Maps. Ini adalah aturan sekaligus tantangan untuk melatih kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah (problem solving) mereka di lapangan.
Begitu sampai di Malang, mereka langsung disambut oleh perubahan rencana. Awalnya, mereka berencana berjalan kaki dari Terminal Landungsari menuju UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Namun, sopir bus memberi tahu info berharga usai menanyakan tujuan mereka, "Nanti bisa kalo mau turun di depan UMM."
Meskipun titik pemberhentian berubah, estimasi waktu yang telah disusun tidak terganggu. Tantangan baru justru muncul saat jam istirahat, di mana waktu terulur cukup lama karena persiapan beberapa anggota yang memakan waktu. Menariknya, tidak ada kericuhan atau emosi. Semua tetap menunggu, mengingatkan, dan tetap berusaha memahami satu sama lain.
Perjalanan pun berlanjut. Tanpa aplikasi peta di genggaman, mereka melangkah tanpa ragu mendekati pos satpam kampus untuk bertanya.
"Kami dari Sekolah Alam SAKA Kediri," Sapa Neo, kordinator lapangan, sebelum lanjut bertanya.
Sebelum sempat menjelaskan tujuan lebih jauh, bapak satpam yang ramah itu sudah lebih dulu menanyakan keperluan mereka. Percakapan singkat pun mengarahkan langkah rombongan menuju bagian Humas. Karena kampus UMM yang begitu luas, mereka sempat beberapa kali bertanya kepada satpam lain hingga akhirnya menemukan gedung yang dituju. Di sana, mereka mendapat izin berkeliling dan diarahkan ke kantor Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) untuk menyelesaikan misi mengambil foto bersama petugas kampus.
Setelah misi UMM tuntas dan menyempatkan diri mengisi energi di outlet Ayam Geprek depan kampus, perjalanan berlanjut menuju Universitas Brawijaya (UB) menggunakan bus Trans Jatim. Di UB, mereka kembali bergerilya berkeliling, mendatangi ruang rektorat, hingga menyambangi bagian PMB.
Namun, dinamika backpacker kembali menguji mereka. Di tengah eksplorasi, muncul instruksi mendadak: “seluruh rombongan harus sudah berada di Masjid Jami' Malang maksimal pukul 13.30 WIB.” Padahal jam di tangan baru menunjukkan pukul 11.10 WIB, dan mereka masih harus mengeksplorasi Politeknik Negeri Malang (Polinema).
buang waktu, rombongan bergegas menuju Polinema. Sayangnya, karena bertepatan dengan jam istirahat kampus, mereka belum berkesempatan bereksplorasi lebih jauh maupun berfoto dengan petugas PMB di sana.
Di bekali kemampuan adaptasi yang cepat. Mereka langsung memesan transportasi (Grab) menuju Masjid Jami' untuk menunaikan ibadah shalat sekaligus menggelar sesi evaluasi perjalanan. Usai evaluasi, petualangan berlanjut dengan menaiki mikrolet khas Malang menuju Stasiun Kota Lama untuk perjalanan pulang.
Langkah demi langkah yang dirangkai sejak berkumpul pukul 04.00 WIB dan berangkat pukul 05.00 WIB pagi itu akhirnya membuahkan hasil manis. Perjalanan mandiri tanpa peta digital ini berjalan lancar hingga rombongan kembali mendarat di Kediri tepat pukul 19.30 WIB pada hari yang sama, 27 Juli 2026.
Ditulis Oleh Azizah Gitaning Ratri